Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

cara supaya anak mendengarkan perkataan orang tua

Agar Anak Mau Mendengar Perkataan Orang Tua

Terkadang Anda mungkin dibuat jengkel karena anak-anak seringkali tak mau mendengarkan perkataan anda pada mereka. Meski begitu, Abu dan Ummu tak perlu marah atau kesal lalu menggunakan kekerasan untuk mengatasinya, karena ada 6 cara agar si kecil mau mendengar.

Biasanya, sebagian besar anak tidak mau mendengarkan orangtua karena ingin mendapatkan perhatian lebih. Tetapi hal ini tentu saja tak bisa dibiarkan, karena menjadi pendengar yang baik bisa membantu anak belajar lebih efektif, mengetahui adanya sinyal bahaya, bersosialisasi dengan baik serta bisa menghargai orang lain.

Berikut adalah beberapa cara yang bisa dilakukan agar si kecil mau mendengarkan orang lain, yaitu:

1. Dekati anak
Terkadang orangtua berteriak dari tempat yang jauh untuk memberitahu anak, hal ini tidak akan memberikan dampak yang efektif. Usahakan untuk berada setara dengan anak, misalnya berjongkok atau agak merunduk sehingga bisa melihat mata anak untuk mendapatkan perhatiannya. Kondisi ini akan membantu anak untuk mau mendengarkan orangtuanya.

2. Berikan pesan yang jelas dan sederhana
Anak-anak akan sulit menemukan pesan yang diinginkan orangtuanya jika kata-kata yang diucapkan bertele-tele atau terlalu panjang. Jika memang tidak ada pilihan bagi anak, maka sebaiknya tidak menggunakan kalimat pertanyaan. Misalnya “Sudah waktunya untuk masuk ke mobil,” akan berdampak lebih besar dibandingkan, “Ayo naik ke kursi mobil, sayang?”.

3. Jangan bosan untuk mengulang
Pesan yang ingin disampaikan ke anak mungkin tak akan cukup dengan hanya mengucapkannya sekali. Karena itu tak ada salahnya untuk memperkuat pesan yang ingin disampaikan berulang-ulang dengan mengucapkannya, lalu memberi isyarat visual (seperti menjentikkan jari), isyarat fisik (meletakkan tangan di bahu anak dengan lembut) dan mendemonstrasikannya.

Selamat mempraktekan cara supaya anak mau mendengarkan perkataan orang tua atau orang lain !

Cara Mengatasi Pertengkaran Antara Kakak Dan Adik

Pertengkaran antara kakak dan adik umum terjadi bahkan karena masalah kecil sekalipun. Sebagai orangtua tentu Anda bisa pusing ketika harus menghadapi masalah ini setiap hari.

Pertengkaran antara anak-anak di rumah sebaiknya juga jangan didiamkan agar tidak berkelanjutan. Agar dapat mendamaikan mereka kembali, coba sembilan cara berikut yang akan membantu Anda mengatasi permasalahan anak, seperti dikutip dari Web MD:

1. Pisahkan
Saat anak Anda saling berkelahi, segera pisahkan mereka. Biarkan mereka di kamarnya masing-masing. Hampir semua orang butuh waktu menjauh untuk sementara agar bisa menenangkan diri. Hal itu juga berlaku pada anak-anak.

2. Ajarkan Negosiasi dan Kompromi
Tunjukkan kepada anak bagaimana cara menyelesaikan masalah secara baik-baik. Pertama, minta mereka untuk berhenti marah dan mulai berkomunikasi dengan tenang. Berikan kesempatan mereka menceritakan masalah yang terjadi. Dengarkan keluhan satu dan yang lainnya, tapi jangan langsung menghakimi. Coba klarifikasi permasalahan dan meminta solusi terbaik dari semua pihak yang terlibat. Jika mereka tidak mempunyai jalan keluarnya, Anda bisa bantu memberikan solusi. Misalnya, mereka berebut video game, buat jadwal permaianan yang adil untuk keduanya.

3. Buat Peraturan
Pastikan semua anak Anda mematuhi aturan yang berlaku. Biarkan mereka membuat hukuman bagi seseorang yang melanggar peraturan, misalnya tidak boleh bermain game saat weekend kalau ada yang tidak menaati peraturan. Dengan begitu, anak akan belajar mengambil keputusan. Anda pun bisa memuji mereka jika terus patuh dengan aturan.

4. Jangan Bandingkan Satu Sama Lain
Apabila salah satu anak Anda lebih unggul daripada yang lain, jangan bandingkan mereka ketika sedang bertengkar. Tidak sedikit orang tua memarahi anaknya dengan membeda-bedakan mereka, seperti mengatakan "Kenapa kamu tidak bisa seperti adikmu?" Hal ini malah memperburuk keadaan. Mereka akan membenci satu sama lain. Sebaiknya, perlakukan anak-anak dengan adil.

5. Hindari Menyamaratakan Hak Masing-masing
Kalau Anda tidak ingin anak-anak terus bertengkar, jangan menyamaratakan hak mereka. Sebagai contoh, anak lebih tua diizinkan melakukan sesuatu yang belum boleh dilakukan oleh adiknya. Hal ini demi kebaikan psikologis mereka.

6. Berikan Hak Anak Secara Tepat
Anda harus mengajari anak-anak memperoleh haknya masing-masing walaupun berbagi sesama saudara itu penting. Namun, beritahu mereka kalau setiap orang mempunyai 'bagian' sendiri terhadap berbagai hal.

7. Ajak Mereka Berdiskusi
Salah satu cara mengatasi permasalahan anak, sediakan waktu luang setiap seminggu sekali supaya bisa mencari jalan keluarnya kalau ada masalah. Berikan kesempatan kepada setiap orang untuk mengungkapkan perasaan serta keluhannya. Jika ada masalah, bikin solusi bersama-sama.

8. Berikan Ekstra Perhatian
Kurangnya perhatian orangtua merupakan penyebab anak-anak membenci satu sama lain. Sebagai orangtua yang baik, Anda harus meluangkan waktu untuk mereka berbagi masalah dengan Anda. Buat rencana pergi berdua dan biarkan dia bercerita. Hal tersebut akan mempengaruhi sikap anak nantinya.

9. Datang ke Psikolog Anak Kalau Anak Sering Melakukan Kekerasan Fisik
Bertengkar antar saudara kandung merupakan hal yang wajar dalam keluarga. Akan tetapi, jika pertengkaran sudah menjadi kekerasan fisik, Anda harus menghentikan mereka. Ajak bicara keduanya secara baik-baik dan berikan mereka pengarahan. Apabila anak tetap tidak dapat mengendalikan amarah serta terus melakukan "bullying", Anda perlu datang ke psikolog anak untuk mendapatkan bantuan.

Cara Membangun Kedekatan dengan Anak Sejak Dini

Cara Membangun, Membangun Kedekatan, Kedekatan dengan Anak, Cara Membaung kedekatan dengan Anak Sejak Dini
Attachment atau kelekatan dengan si kecil perlu dibangun sejak dini agar saat dewasa, anak bisa tumbuh menjadi manusia yang tangguh dan sehat baik jiwa maupun raga. Bagaimana caranya membangun kelekatan sejak dini?

Psikolog Ratih Ibrahim belum lama ini menuliskan serangkaian tweet membahas pentingnya pemberian attachment sejak dini pada anak. Kenapa penting? Wolipop sebelumnya sudah membahasnya di sini.

Setelah mengetahui pentingnya kelekatan antara orangtua dan anak ini, Anda tentunya ingin tahu hal-hal yang harus dipersiapkan dan dilakukan untuk membangun attachment tersebut. Menurut Ratih, syarat pertama adalah sebagai orangtua Anda harus benar-benar siap dan ikhlas.

"Kalau enggak, mending jangan punya anak. Karena anak bukan trophy/aksesori perkawinan," tulis Ratih di akun Twitternya @ratihibrahim, Rabu (8/8/2012). "Siapkan diri (berdua:ibu+papa) secara fisik, emosional, mental, sosial-finansial untuk jadi ortu. Bisa belajar banyak juga dr @drtiwi," sambungnya lagi seraya menyebut rekannya yang seorang dokter anak dr. Tiwi.

Setelah menyiapkan diri menjadi orangtua, langkah selanjutnya yang bisa dilakukan adalah sebisa mungkin lahirkan anak melalui proses persalinan normal. "Saya percaya apapun yg normal alamiah itu yg terbaik, hadiah Tuhan atas kehidupan @drtiwi," tulis Ratih dalam tweetnya. "Melahirkan normal, sehingga tubuh mama+bayi SIAP secara alamiah juga. Dan lakukan IMD (inisiasi menyusui dini)," jelasnya lagi.

Kelekatan ini, ditambahkan Direktur Personal Growth itu, bukan hanya bisa dibangun ketika anak sudah lahir. Sejak dia masih di dalam kandungan pun dapat dilakukan. Bagaimana caranya? Ratih mengatakan Anda bisa mencobanya dengan mengelus-ngelus perut dan berbicara penuh cinta dengan janin.

"@drtiwi pernah cerita, bayi2 yg baru lahir MENGENAL suara ayah+ibunya, pada saat ketemu pertama kali, saat dilahirkan - bukti #attachment," tweet Ratih.

Ketika si kecil sudah lahir, pastikan Anda juga memberi bayi ASI dan sering menyusuinya secara langsung bukan lewat botol. Dengan menyusui ini lah kelekatan, bonding, cinta dan pengisian jiwa anak terjadi.

"Kalau nggak bisa keluar ASI gimana? Tetap saja, invest waktu dan dirimu utk membangun positive#attachment dengan anakmu. Be there for your child," saran psikolog lulusan Universitas Indonesia itu.

Menjelang akhir kultwitnya mengenai attachment, Ratih memaparkan, jika kelekatan yang baik ini terpenuhi dengan benar sejak anak-anak masih sangat dini dan orangtua konsisten melakukannya di setiap perkembangan usia, niscaya anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang sehat dan bahagia.

"Lebih dari 20 tahun saya menemani banyak sekali klien, banyak issue di usia dewasa sd tua-nya lantaran lack of #attachment yg benar. Sad," tulisnya.

Ratih pun berpesan pada semua orangtua agar selalu ada untuk anak-anak mereka. "So be there for your children, with them... Hug more, love more! Be affectionate parents. You invest their future."

Cara Supaya Anak Tumbuh Berkarakter

Cara Supaya Anak Tumbuh Berkarakter
Ingin punya anak dengan kepribadian dan karakter yang kuat? Ajarkan nilai-nilai positif sedari dini.

"Bangga sekali melihat Rafael berinisiatif menunggui temannya yang terlambat dijemput orang tuanya saat pulang sekolah tadi. Meskipun akibatnya Rafael sendiri harus terlambat pulang," begitu kata Poppy tentang anak laki-lakinya yang saat ini duduk di kelas 2 SD.

Rafael memang anak laki-laki kecil yang baik dan menyenangkan. Semua orang menyukainya. Di lingkungan sekolah, guru-guru mengenalnya sebagai anak yang pintar dan penurut.

Rafael juga memiliki banyak teman karena ia baik dan suka membantu. Pembawaannya menyenangkan dan humoris.

Sikap baik yang ditunjukkan Rafael bukanlah sikap yang muncul begitu saja. Apalagi dewasa ini anak-anak terpapar pada bermacam sikap yang tidak baik dan kasar, ke mana pun mereka pergi, di tempat umum, di kelas, di sekolah, bahkan di televisi.

Oleh karena itu, orang tua harus kembali mengajarkan nilai-nilai positif dan sikap baik, mulai dari dalam rumah. Biarkan anak-anak terlihat menonjol dengan sikap mereka yang sopan, serta karakter dan kepribadian mereka yang kuat di tengah-tengah budaya masyarakat moderen seperti sekarang ini. Orang tua mana yang tidak akan bangga?

Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., Psikolog Anak dan Keluarga, yang berpraktik salah satunya di Kid Space Pondok Indah, menyatakan bahwa nilai atau value adalah keyakinan yang ingin diperjuangkan dalam hidup, atau bisa juga disebut sebagai misi hidup, yang berdasarkan pada filosofi hidup manusia.

"Nilai sangat penting ditanamkan dalam keluarga. Bisa sebagai alat untuk mengarahkan apa yang ingin kita capai dalam hidup kita. Supaya kita tidak ragu dalam menentukan arah.

"Sebab, bila kita ragu, kita akan kehabisan waktu dan akhirnya tidak mencapai apapun dalam hidup kita. Dengan memprioritaskan nilai, kita bisa menegakkan niat, sehingga menjadi manusia yang punya kepribadian," jelas psikolog yang biasa dipanggil Nina ini.

Widyastuti Purbani, Wakil Dekan Fakultas Sastra Universitas Negeri Yogyakarta yang memiliki ketertarikan di bidang sastra anak dan gender serta mengambil titel Doktornya di Universitas Indonesia pun menegaskan bahwa menularkan nilai kepada anak-anak harus dilakukan sedari dini.

Pendidikan nilai dilakukan terutama di dalam rumah dan juga sekolah paling tidak dalam dua tahap. Tahap pertama adalah tahap penyadaran. Pada tahap ini, anak-anak diajak memahami mengapa nilai tertentu, misalnya kejujuran penting dalam kehidupan.

Jelaskan kepada anak bagaimana jika orang tidak jujur, apa risikonya bersikap tidak jujur dan sebagainya. "Dalam tahap ini, orang dewasa bisa menggunakan contoh-contoh yang ada di sekitar kita, misalnya dari orang-orang yang ada di lingkungan, tokoh-tokoh di dalam cerita atau film dan sebagainya," jelas ibu dua anak itu.

Tahap kedua adalah tahap aksi atau implementasi, yakni mengajak anak mempraktikkan nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. "Caranya, anak diberi tugas-tugas dan ia harus menunjukkan sikap jujur, misalnya saat berbelanja atau mempertanggung jawabkan proyek yang menyangkut keuangan. Tentu pada tahap awal perlu ada reward and punishment," tambahnya.

Antara Nilai & Sikap
Lebih lanjut Widyastuti menjelaskan bahwa pendidikan nilai menyangkut sikap dan perilaku dasar. "Oleh karenanya sangat strategis dimulai semenjak usia dini. Pada usia dini anak-anak lebih sering berada di rumah, di tengah keluarga, maka keluarga memiliki peran yang sangat penting untuk menanamkan nilai-nilai.

Sekolah dapat membantu menanamkan niai-nilai, tetapi karena keluarga dan lingkungan sekitarnya merupakan arena kehidupan yang sesungguhnya, maka keluargalah idealnya menjadi pusat pendidikan nilai," tegasnya.

Menurut Widyastuti, nilai yang diprioritaskan di dalam satu keluarga bisa berbeda de?ngan keluarga lainnya. Namun, ada beberapa nilai yang secara umum diajarkan, di antaranya nilai-nilai kemandirian, empati dan kedermawanan, juga kejujuran, keadilan, tanggung jawab, menghargai sesama, serta kepercayaan diri.

"Namun dalam era penuh tantangan dan buaian pragmatisme dewasa ini, kita juga perlu menanamkan nilai kerja keras, kegigihan dan pantang menyerah kepada anak-anak kita, karena jika kita lembek dan cepat merasa puas maka kita akan tertinggal dari bangsa-bangsa lain yang memiliki etos kerja yang tinggi," ujar dosen yang mengambil S2-nya di Deakin University, Australia ini.

Bila Anda sudah menanamkan nilai-nilai positif kepada anak-anak sedari dini, mereka akan terus mempelajarinya dan mencerminkan nilai-nilai positif itu dalam sikap dan perbuatan hingga terus terbentuk menjadi karakter dan kepribadiannya hingga dewasa kelak.

Sumber: (Majalah Goodhousekeeping edisi Maret 2012)-ghiboo.com
 

Site Info

BUKAN-RAHASIA -LAGI Copyright © 2009 DarkfolioZ is Designed by Bie Blogger Template for Ipietoon
In Collaboration With fifa